
*Diba Azzukhruf
Adakah yang bisa mengalahkan keterpesonaanku padanya? Aku menyadari keabnormalan yang menyalahi kodratku. Tapi tetap saja! Dia kutemukan seorang diri di balik belukar sungai, sedang menangis dan makin menangis ketakutan melihatku.
“Tenanglah,” ujarku. Tubuhnya bergetar menahan gelombang air, keelokannya kian menambah kekagumanku pada bangsa Flagtail characin.
“Mengapa kau bisa seorang diri di sini? Mana kawananmu?” tanyaku. Ia diam, mungkin takut. Aku mengerti akan predikatku sebagai predator amazon. Ada rasa yang tak biasa, aku ingin bersamanya.
Lama-lama takutnya mulai menyirna. “Lumi,” ia menyebut namanya. Ia bercerita arus sungai yang meluap kemarin yang membuatnya sampai ke area kekuasaan piranha. Ia pun bersembunyi dan takut berenang pulang.
“Spevu, sedang apa kau di situ?” aku terkejut dan melihat dua temanku mendekatiku. Gesit, Lumi langsung bersembunyi.
“Mencari makanan, kenapa?”
Mereka menatapku curiga, sesaat. “Jika kau menemukan daging, jangan lupa berbagi dengan yang lain. Heran, tak ada ikan yang datang ke wilayah kita!”
Aku mengangguk, lalu mereka pergi. Segera kudekati lubang persembunyian Lumi.
“Jangan takut, aku melindungimu.”
“Spevu, mengapa kau baik padaku? Kau adalah piranha dan bukannya pasti senang bila melihat ikan sepertiku.”
Aku terdiam. Haruskah kukatakan kalau aku telah mencintainya? Kecantikannya sangat menyihirku dan membuatku lupa bahwa aku dan dia tidaklah sama.
(BERSAMBUNG)
…………. Baca kisah selanjutnya ditambah 44 cerita fabel lainnya dalam buku “Ketika Binatang Bicara Cinta”





